Ada Apa dengan Keluarga Kita?

Oleh T. Farida Rachmayanti (CAD Dapil Beji)

Harta yang paling berharga adalah keluarga.  Istana yang terindah adalah keluarga. Mutiara yang paling bermakna adalah keluarga….
Demikianlah potongan bait lagu yang mengiringi serial drama seri ‘Keluarga Cemara’.  Lalu bagaimanakah gambaran keluarga pada masyarakat kita?

Jurnal Indonesia pernah mengungkapkan tingginya angka perceraian di Kota Depok. Dalam setiap harinya, ada 3 kasus perceraian.   Sebuah tabloid ibu dan anak pun menyebutkan selain Jakarta, di kota-kota lainnya termasuk Depok angka cerai gugat terus meningkat dari tahun ke tahun.  Begitu juga angka perceraian secara keseluruhan , tak pernah turun.  Perceraian di propinsi Jawa Barat  menunjukkan angka yang fantastis.  Sebagai contoh kasus misalnya,  angka perceraian di Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2006 ada 2.194 perkara yang masuk.. Di tahun berikutnya  jumlahnya meningkat menjadi 2.374 perkara. Artinya ada peningkatan 20,7 persen.  Sementara di Kota Bekasi per Juli 2007 rata-rata sudah mencapai lebih dari 1200 perkara pertahunnya. Padahal beberapa tahun sebelumnya, kasus perceraian di kota ini berkisar 600-an perkara pertahun. 
Suara SurabayaNet mengungkapkan Jumlah perceraian di Indonesia mencapai angka yang fantastis setiap tahunnya, Dua ratus ribu pasangan berpisah.  Rekor nomor satu untuk kawasan Asia Pasifik. Data Bimas Islam Departemen memperkuat fenomena ini setiap tahun ada 2 juta perkawinan, tetapi yang memilukan perceraian bertambah menjadi dua kali lipat, setiap 100 orang yang menikah, 10 pasangannya bercerai, dan umumnya mereka yang baru berumah tangga. Dalam hal ini, Indonesia berada diperingkat tertinggi dalam angka perceraian setiap tahunnya, dibandingkan negara berpenduduk muslim di dunia lainnya
Salah satu faktor terbesar fenomena tingginya angka perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi,.  Keluarga yang bercerai ini kebanyakan dari golongan masyarakat menengah ke bawah secara strata social.  Faktor terbesar ini relevan dengan kondisi perekonomian  saat ini. Ada 15,5 juta keluarga miskin di Indonesia dan 2,9 juta tinggal di wilayah Jawa Barat.  Sedangkan jumlah keluarga miskin di Kota Depok berkisar 32.085.  Sedangkan untuk kalangan menengah ke atas factor penyebabnya adalah ketidakharmonisan rumah tangga.
Bukan hanya perceraian yang menjadi bagian dari permasalahan keluarga, kekerasan terhadap anggota keluarga, dalam hal ini perempuan dan anak trendnya juga cenderung meningkat.   Pada tahun 2001 jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan mencapai 3169 kasus. Tahun 2002 meningkat menjadi 5163 kasus. Tahun 2003 sebanyak 7787 kasus, tahun 2004 mengalami kenaikan dua kali lipat menjadi 14.020 kasus dan tahun 2005 melonjak sebesar 23.091 kasus dan tahun 2006 berjumlah 22.512 kasus.  Sementara itu, Survei Badan Pusat Statistik dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2006 menunjukan ada 2,29 juta anak menjadi korban kekerasan. Dari jumlah tersebut sebesar 51,9 % disebabkan anak dinilai tidak patuh. Lebih lanjut data Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa selama tahun 2007 terjadi 1.520 kasus kekerasan terhadap anak yang terdiri dari 346 kasus kekerasan fisik, 532 kasus kekerasan seksual dan 642 kasus kekerasan psikis.
Pada hakikatnya, Kekerasaran, dan perdagangan anak  akibat korban situasi keluarga. Bahkan tidak sedikit yang berujung pada kematian.  Kasus 2 anak yang meninggal karena direndam ibunya dalam  bak mandi di Bekasi misalnya.  Konon sang ibu stress cemburu karena suami dicurigai selingkuh, disamping dugaan factor ekonomi. Perdagangan anak yang akhirnya terlibat pada pelacuran juga disebabkan oleh keterlibatab orang tua. Yang sengaja mengeksploitasi anak untuk mencari nafkah. Praktik perdagangan perempuan dan anak di Indonesia cenderung meningkat setiap tahun dengan jumlah diperkirakan antara 74.616 hingga satu juta orang per tahun dengan berbagai modus operandi
Betapa suramnya potret keluarga kita.  Padahal keluarga adalah unit terkecil yang memberikan gambaran seperti apa masyarakat kita.  Keluarga adalah rumah di mana pertama kali kita memperoleh cinta, kasih sayang, kehangatan dan ketenangan.  Keluarga adalah lembaga pertama yang menumbuhkembangkan potensi kemanusiaan. Keluarga adalah energi, inspirasi dan motivasi yang menyemangati Lalu jika angka-angka di atas membuat hati kita miris.  Masyarakat seperti apakah yang hendak kita bangun? Masyarakat yang kering dari rasa cintakah? Masyarakat yang selalu gusar dan apatis? Masyarakat yang tanpa daya dengan kemandulan potensikah?
Jangan bermimpi tentang bangsa yang hebat sebelum kita bisa mencetak keluarga-keluarga hebat. Jangan berkhayal tentang bangsa yang kuat sebelum kita mampu membangun keluarga yang kuat. 
Wallahu A’lam bishowwab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>