Category: Oase

Keluarga yang berkumpul di Surga

oleh: Tifatul Sembiring

ilustrasi Umat Islam tengah menjalankan ibadaah Sholat Taraweh di Masjid Ar-rahman, Rawamangun, Jakarta, Senin (8/7). Umat Islam Muhammdiah menjalankan ibadah Puasa dimulai pada hari Selasa (9/7), besok. (ANTARAFOTO/ Ujang Zaelani) ()

Jakarta (ANTARA News) – “Dan orang-orang yang beriman serta anak cucu mereka yang mengikutinya dalam keimanan, kami akan kumpulkan (di Surga) bersama anak-cucu mereka” QS At-Thuur : 21.

Pada suatu kesempatan, Nabi saw menasihati putri kesayangan beliau yang bernama Fathimah. “Wahai Fathimah binti Muhammad, beramallah untuk bekal (akhirat)-mu. Karena aku (Nabi saw) tidak akan bisa menolong engkau sedikitpun di akhirat nanti,” tegas Rasulullah saw.

“Subhaanallah,” begitulah nasihat Nabi saw untuk Fathimah. Dan memang orangtua tidak dapat memberikan garansi kepada anak-anaknya, kecuali sang anak mau berupaya menggapai surga itu.

Perhatikanlah apa yang terjadi pada Nabi Nuh as. Beliau berpisah dengan sang anak, lantaran si anak tidak mau mengikutinya beriman. Bahkan ketika air banjir bandang datang, ketika sang anak timbul tenggelam dipermainkan gelombang air bah, sebagai ayah, Nuh as tidak tega melihatnya. Dan diapun berdoa:

“Ya Rabbi, itu anakku adalah keluargaku. Sungguh janji Engkau benar, dan hanya Engkau Hakim yang Maha Adil,” pinta Nuh as.

Allah swt menjawab: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah tergolong keluargamu, karena dia tidak beramal sholeh. Maka janganlah engkau meminta kepadaKu sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya,”.

Ternyata, sekalipun itu adalah anak kandung nabi Nuh as, namun jika dia tidak beriman, maka Allah swt mengatakan bahwa anak itu bukanlah termasuk anggota keluarganya.

Di samping usaha keras untuk mendidik dan mengarahkan tanggung jawab kita, anak-anak tercinta bersama isteri, agar kelak dapat berkumpul di surga Allah, maka janganlah lupa berdoa untuk meraih kebahagiaan tersebut.

Karena sesungguhnya kebahagiaan hakiki itu adalah, tatkala kita bisa berkumpul dengan keluarga dalam keadaan beriman dan bertakwa saat di dunia, kemudian berhasil pula berkumpul kembali di surga Allah swt kelak. Semoga saja kita bisa meraihnya.

Namun ingatlah akan Hadits Nabis saw: “Nanti di hari Kiamat, seseorang suami diseret ke tengah-tengah Padang Mahsyar. Bergelayutan isteri dan anak-anaknya di lengan kanan dan lengan kirinya,”.

Ketika dihisab, ternyata sang suami bisa masuk surga, lantaran amalnya cukup. Sementara sang isteri dan anak-anaknya dinyatakan masuk neraka, lantaran kurang amal saat di dunia.

Lalu sang isteri berkata: “Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinikahi dan dipergauli, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari laki-laki ini,” ujar isterinya sambil menunjuk-nunjuk suaminya.

Lalu anak-anaknyapun protes: “Ya Allah, demi keadilan Engkau. Saya dinafkahi dan diberi harta, tapi saya tidak diajari Islam yang saya tidak mengerti. Ambil hak kami dari ayah kami ini,” ujar anak-anaknya.

Akhirnya, semua keluarga itu dimasukkan ke dalam neraka. “Nau’dzubillahi min dzalik“.
(*)

Empat pertanyaan di Mahsyar

Oleh: Tifatul Sembiring

ilustrasi Umat Islam tengah menjalankan ibadaah Sholat Tarawih di Masjid Ar-rahman, Rawamangun, Jakarta, Senin (8/7). (ANTARAFOTO/ Ujang Zaelani)

Jakarta (ANTARA News) - “Dan didatangkanlah para Nabi dan saksi-saksi dan diputuskan diantara mereka dengan adil” QS Az-Zumar:69.
Read more

Tausiyah Ramadhan: Tahu Diri

Oleh: Tifatul Sembiring

Umat Islam melaksanakan ibadah shalat Tarawih pertama di Masjid Jakarta Islamic Center, Jakarta Utara, Selasa (9/7).
(ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) ()

Jakarta (ANTARA News) - “Bukankah telah datang suatu masa atas manusia, yang ketika itu dia merupakan sesuatu yang tidak bisa disebut” QS Al-Insan :1.
Read more

Tausiyah Ramadhan: Jibril menangis

ilustrasi

“Maka orang-orang kafir itu, pakaian mereka dibuatkan dari api neraka, lalu disiramkan ke atas kepalanya rebusan air mendidih. Hancur luluhlah isi perut dan kulit-kulit mereka” QS Al-Hajj: 19-20.

Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw diperlihatkan kepada pemandangan penduduk neraka. Diantaranya, ada orang yang lidahnya setiap saat semakin panjang, hingga berlilit-lilit dan diinjak-injak orang di jalan.

Lantaran merasa kesakitan, orang itu lalu menggunting lidahnya. Akan tetapi lidahnya kembali menjadi panjang, lalu diguntingnya kembali. Begitulah keadaannya seterusnya.

Ada lagi seseorang yang membawa bara neraka di sebuah piring. Lalu bara itu dimakannya, langsung tembus dari mulut hingga ke anusnya. Orang itu melolong sangat kesakitan, namun bara itu kembali dimakannya, dan tembus lagi sampai ke anusnya, dia melolong kembali. Begitulah seterusnya.

Ada pula orang yang perutnya sebesar kamar, setiap akan berdiri, orang itu langsung terbanting jatuh. Dicobanya lagi berdiri, namun ia jatuh lagi. Begitulah seterusnya.

Ada juga pemandangan perempuan lacur, orang yang saling pukul kepala dengan martil dan sebagainya.

Rassulullah saw bertanya kepadaa Malaikat Jibril yang menemani beliau saw:
“Apa dosa-dosa orang itu wahai Jibril,” tanya Rasulullah saw.

Malaikat Jibrilpun menjelaskan, bahwa orang yang memotong-motong lidahnya itu, adalah diakibatkan dosanya yang sering bergunjing, membicarakan keburukan saudaranya.

Adapun orang yang memakan bara api neraka itu disebabkan, karena waktu di dunia ia suka memakan harta anak yatim dengan cara tidak benar. Sedangkan orang yang perutnya sebesar kamar itu disebabkan dosanya yang suka memakan riba, bunga uang.

Lalu malaikat Jibril bercerita tentang api neraka. Bahwa Allah swt, telah menyalakan api neraka itu selama 1.000 tahun, sehingga apinya menjadi merah padam bernyala-nyala.

Lalu dipanaskan lagi 1.000 tahun, lantaran suhu panasnya, api itu berubah warna menjadi putih. Lalu Allah swt memanaskannya selama 1.000 tahun lagi, hingga apinya berubah menjadi hitam pekat dan gelap.

“Jika ada manusia yang dilemparkan ke dalamnya, maka sekejap saja langsung akan musnah,” ujar Jibril.

Kemudian malaikat Jibril pun menangis. “Mengapa engkau menangis Ya Jibril,” tanya Rasulullah saw. “Aku takut kepada jiwaku,” ucap Jibril.

“Bukankah engkau adalah malaikat, yang tidak mungkin berbuat maksiat kepada Allah swt,” kata Nabi saw.

“Benar, akan tetapi takdir Allah bisa berlaku atas siapa saja. Bukankankah Iblis itu asalnya adalah penduduk Surga, lalu berlaku takdir Allah swt atasnya. Hingga Iblis menjadi penghuni Neraka,” urai Jibril.

Ya Allah, kami berlindung pada-Mu dari api neraka dan segala apa yang mendekatkan kami kepadanya, baik niyat, perkataan, perbuatan maupun tekad-tekad kami. Amien.

Ada seroja yang tengah merona
Simbol kota-raja semakin merekah
Apa bahagia yang paling sempurna
Berkumpul keluarga di syurga Allah


Penulis : Tifatul Sembiring
Sumber: Ramadhan Antara

Ketika tiba-tiba Rasulullah SAW beruban

Ilustrasi (zamezame.blogspot.com)

 ”Maka istiqomahlah engkau (Muhammad) sebagaimana diperintahkan, bersama orang yang taubat, jangan melampaui batas”-QS Hud:112

Tiba-tiba saja rambut Rasulullah saw cepat beruban, sehingga seorang sahabat bertanya kepada beliau saw. “Mengapa engkau cepat beruban Ya Rasulullah?’”. Read more