Category: Oase

Cinta dan Doa untuk Anak Kita


Hari itu musim liburan sekolah dan pesantren. Tiba-tiba banyak gadis kece bertamu ke rumah seorang konsultan pendidikan, untuk bertemu dengan anaknya yang sedang berlibur.

Tahu yang datang gadis-gadis, sang ayah dan ibunda yang juga muballighah nasional menemani putranya menemui tamu-tamu itu.


“Diantara gadis-gadis itu, siapa yang kamu ada hati padanya, Nak?” tanya sang ayah kepada anaknya yang masih menimba ilmu di pesantren itu, selepas tamu-tamu tersebut pulang.

“Ah, enggak kok, Yah” jawab sang putra, dengan wajah tersipu.
“Hayoo.. siapa?” sang ayah masih mengulang pertanyaan senada, dengan nada yang lebih halus, “apakah yang berjilbab merah?”
“Enggak, Yah…”
“Jujur saja, ayah juga pernah muda kok” lanjut sang ayah sambil memeluk putranya, “Tapi ayah dan bunda sudah berdoa: ‘Ya Allah… jadikanlah anakku menjadi anak yang shalih, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Dan kelak ketika waktunya tiba, berikanlah ia jodoh wanita yang shalihah, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Sehingga ia tidak sampai menodai masa mudanya dengan pacaran.”

Mata sang anak berkaca-kaca mendengar doa sang ayah. Doa tersebut juga dituliskan oleh ayah di laman facebook anak.

“Teman-temanmu cewek kok tidak ada yang main lagi kesini?” tanya sang ayah pada musim liburan berikutnya, ketika tak ada lagi tamu-tamu cewek yang datang ke rumah itu.
“Berarti doa ayah sudah makbul” jawab sang anak. Keduanya pun tertawa akrab.

Tahukan engkau siapa orang tua tersebut? Mereka Ustadz Suhadi Fadjaray dan istrinya.

“Doa yang kita panjatkan untuk anak-anak kita adalah kunci kesuksesan parenting,” kata Ustadz Suhadi setelah menceritakan kisah tersebut dalam Parenting Education 2013 yang diselenggarakan Sekolah Al Ummah, di Gedung PPS Semen Indonesia, Gresik, Ahad (19/5).

Memiliki anak yang shalih merupakan dambaan setiap muslim. Terlebih, setelah kita meninggal, segala amal akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya adalah anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya. Menjadikan anak shalih bukanlah hal yang mudah. Seringkali anak-anak yang diibaratkan sebagai kertas putih, justru menjadi kusam dan ternoda akibat kesalahan orang tua di masa tujuh tahun pertama, terutama setelah tahun ketiga.

 
Orangtua pada tahun pertama “mirip” malaikat penjaga surga, selalu tersenyum dan bertindak cekatan untuk anaknya karena cinta. Meski hanya dengan tangisan, sang anak akan mendapatkan segala yang ia inginkan dari kedua orangtuanya. Sayangnya, ketika usianya telah mencapai tiga tahun, orangtua mulai suka memarahi. Masih ngompol dimarahi, menangis dimarahi, mencoba sesuatu yang baru juga dimarahi dengan alasan ‘bahaya’, ‘kotor’, dan sebagainya. Ia mulai dituntut agar bisa membaca di usia 5-6 tahun, dan dimarahi lagi ketika belum juga bisa membaca. Mulailah label “bodoh”, “nakal” dan sejenisnya dilontarkan terus menerus kepada anak.

Anak kemudian tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, di samping kecerdasan otaknya menurun. Terbiasa dibentak dan dimarahi, ia pun belajar menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan.

Sebaliknya, jika orangtua mampu menjaga cinta pada anaknya, dekat dengan buah hatinya, dan terus membangun komunikasi dengannya, sang anak pun tumbuh percaya diri dan dekat dengan orang tua. Bukan hanya kecerdasan intelektualnya yang terjaga, karakternya pun menjadi mulia. Kedekatan dan kasih sayang ini menjadikan sang anak, kelak ketika remaja atau menjadi pemuda, ia lebih mudah menerima nasehat dari orangtuanya.

Dan tentu saja, karena yang menguasai hati adalah Allah, maka berdoalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah agar hati anak kita dijaga; tetap besih, menjadi anak yang shalih.

Seusai training, dalam sesi ramah tamah bersama Pengurus Yayasan dan Komite Sekolah, Ustadz Suhadi menjelaskan mengapa orang tua zaman dulu yang tidak mengenyam pendidikan formal dengan baik, secara intelektual sangat sederhana, bahkan tidak mengikuti seminar parenting, tetapi anak-anaknya menjadi shalih dan berhasil seperti Anda? Sebab mereka memiliki doa. Mereka berdoa dengan sepenuh hati untuk kebaikan anak-anaknya. Mereka berdoa sepenuh jiwa agar Allah menjadikan keturunannya shalih dan shalihah. Mereka berdoa dengan ikhlas dan dengan khusyu’ kepadaNya. Wallahu a’lam bish shawab. []

Ketika Badai Benci dan Badai Cinta Bertemu

dakwatuna.com - Siapapun Anda, apapun baju kebanggaan Anda, serumit apa pun masalah Anda, seberapa besar pun badai kebencian atau kecintaan Anda, marilah sejenak bersama saya menundukkan hati, menenangkan pikiran, kita dengarkan sapaan dari langit, dari Allah swt. Zat Yang Maha Menggenggam Hati manusia, merubah yang benci jadi cinta dan yang cinta jadi benci. Allah berfirman:
????? ??????? ???? ???????? ?????????? ???????? ????????? ??????????? ???????? ????????? ????????? ??????? ????????? ??????? ???????
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah: 7)
***

Saudaraku yang dirahmati Allah…
Setelah membaca ayat di atas, kira-kira apa kesan yang Anda dapat? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang yang selama ini membenci dan memusuhi Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda benci dan Anda musuhi? Bagaimana pula perasaan Anda terhadap orang yang selama ini mencintai dan begitu dalam mencurahkan perhatiannya kepada Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda cintai dan Anda sayangi?
Silahkan Anda benci, siapapun yang Anda tidak suka atau apapun yang Anda tidak suka? Silahkan Anda cintai, siapapun yang Anda suka atau apapun yang Anda suka?
Namun, sadarkah Anda bahwa benci dan cinta itu muncul karena ledakan emosional sesaat ketika perasaan seseorang tersentuh. Ia berawal karena ada energy pendorong yang mem-push kita untuk membenci dan mencintai itu datang secara beruntun. Dan secara reflex, kita akhirnya membenci atau mencintai sesuatu/seseorang. Jika ia dibiarkan terakumulasi dalam beberapa tenggang waktu dan faktanya energy itu terus-menerus mem-push kita, maka kuota kebencian  atau kecintaan akan semakin bertambah. Yang cinta jadi benci, dan yang benci jadi cinta.
Kebencian itu ibarat badai topan. Ia akan mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya. Lahir dan batinnya. Ia akan datangi semua gedung, bahkan gedung pencakar langit pun ia akan hampiri. Ia akan hantam gedung yang kokoh tegak berdiri itu dengan bertubi-tubi. Tanpa ampun. Seakan tanpa mengenal lelah. Tanpa jeda waktu. Tanpa mengenal usia, seakan hidup selamanya. Bahkan tanpa mengenal kehidupan dan kematian. Perhitungan dan pertanggungjawaban.
Maka, bisa jadi, sedikit demi sedikit salah satu dari atapnya copot, tiangnya mulai retak, kaca di jendelanya pecah-pecah dan akhirnya angin topan pun mendesak memasuki area dalam gedung megah itu, hingga bisa memporak-porandakan semua yang ada di dalam. Dan mungkin, seiring berjalannya waktu, gedung itu juga akan runtuh. Karena diterpa badai kebencian.
Kecintaan juga demikian. Badai cinta juga akan memobilisasi semua potensinya. Badai cinta itu juga hakikatnya terdiri dari beberapa formula pendorong yang terakumulasi hingga menjadi cinta yang utuh dan matang serta tidak tergantikan. Pertama cinta karena al-istihsan (anggapan baik). Kedua cinta karena takjub (at-ta’ajjubu). Cinta karena ingin selalu dekat dan ada di sisinya atau rindu yang menggebu (hayyamahul hubbu). Dan cinta karena kasmaran (al-‘usyqu). Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta, hati dan pikirannya. Tidak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk membenci, sekalipun orang lain sebenarnya sudah menampakkan indikasi-indikasi kebencian mereka.
Celakanya, manusia banyak terjebak untuk tidak melibatkan akal pikirannya, untuk berpikir secara jernih, untuk mengkalkulasikan dengan detail, kerugian apa jika ia membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang? Keuntungan apa jika ia membenci atau mencintai dan menyayangi sesuatu atau seseorang? Lalu, apakah keuntungan dan kerugian itu akan berkepanjang hingga hari di saat kita bertemu dengan Allah (mumtaddah ila yaumil qiyaamah) ?
Atau mengajak akal pikirannya merenung sejenak, menanyakan sebenarnya energi apa yang mendorongnya untuk begitu membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang?
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Kita hidup di era interplaniter, disaat cinta dan benci menjadi semu. Cinta dan benci sering terbeli oleh materi. Terkapitalisasi dalam bentuk jabatan publik dan kekuasaan. Tersandera dan terpenjara dalam satu komunitas tertentu. Bukan cinta dan benci dengan standar universal.
Inilah yang menjadikan saya tertarik untuk kembali membuka lembaran-lembaran buku karya DR. Khalid Jamal yang bertajuk AJARI AKU CINTA. Beliau mengajak kita untuk membayangkan jika seandainya cinta itu makhluk hidup seperti manusia, maka saat ini ia pasti akan berteriak lantang di hadapan kita, karena CINTA itu sekarang sedang mengalami penderitaan.
Beliau menggambarkan dalam bukunya tersebut, “Penderitaan Cinta itu sekarang terjadi saat melihat manusia melakukan tindakan-tindakan bodoh mengatasnamakan aku (cinta).  Mereka merampas kehormatan orang lain atas namaku. Jika semut itu berteriak, mengingatkan seluruh bangsanya atas bahaya yang akan menimpa mereka ketika lewat satuan inspeksi tentara Sulaiman dengan berkata: “Berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-Naml: 18).  Maka, aku (cinta) juga berteriak atas nasibku dan nasib semua orang yang mengatasnamakan cinta untuk berbuat ‘kerusakan’ di atas bumi ini.”
Jadi, sebenarnya dalam lembaran kebencian itu, ada ‘lembaran-lembaran cinta’ yang sengaja ditutupi-tutupi atau tersembunyi. Begitu juga dalam lembaran cinta, ada ‘lembaran-lembaran kebencian’ yang juga sengaja ditutup-tutupi atau tersembunyi.
Hanya saja yang jadi pertanyaan, “Siapa yang menyuruhnya menutupi lembaran cinta itu, disaat kebencian meledak? Siapa sebenarnya yang menyuruh menutupi lembaran kebencian itu, disaat cinta meledak?”
Jika yang menunjukkannya adalah Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Kasih Sayang, maka ia berada dalam jalan kebenaran. Begitu juga jika yang mengajarkan menutupi cinta dan benci itu Rasul-Nya, maka ia dalam keselamatan. Sehingga manusia akan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Membenci orang-orang yang dibenci Allah dan Rasul-Nya dan mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah barometer yang tepat sasaran dan tepat guna.
Kalau manusia sadar dengan hakikat ini, maka potensi berubahnya kebencian menjadi cinta, atau cinta menjadi kebencian, bukanlah suatu yang mustahil. Dan itulah yang diisyaratkan dalam surat Al-Mumtahanah di atas.  Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah: 7)
Masih segarkah dalam ingatan Anda, berapa banyak dari pembesar kota Mekkah yang membenci nabi agung kita Muhammad saw? Apakah dulu Umar bin Khattab tidak membenci Rasulullah? Bagaimana dengan Khalid bin Walid, Hamzah, Suroqoh? Abu Sufyan?
Bahkan, satu kota Thaif yang dulu begitu membenci Rasulullah, menolak dakwah Rasulullah, mencerna dan menghina Rasulullah, melukai Rasullah dengan lemparan batu hingga tubuh Rasulullah berlumuran darah, mengusir Rasulullah dari kota mereka, akhirnya semua penduduk Thaif masuk Islam dan bahkan keislaman mereka jauh lebih kuat dari umumnya para penduduk Mekkah yang sudah masuk Islam. Hal itu dibuktikan ketika hembusan fitnah kekufuran mewabah di setiap kota Mekkah dan Madinah sepeninggal Nabi Muhammad saw., namun di kota Thaif tidak ditemukan satupun orang yang murtad.
Subhaanallah….
Mereka yang dulu membawa bendera kebencian terhadap Rasulullah dan dakwahnya, akhirnya menjadi sosok-sosok yang mengalirkan cinta mereka dengan deras kepada Rasulullah dan dakwahnya hingga akhir hayat mereka.
Tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang Anda benci, nanti akan bertemu dengan kita di surga, ketika ia kembali pada jalan kebenaran. Begitu juga, tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang kita cintai, akan kita temukan di neraka, ketika jauh dari hidayah Allah dan Rasul-Nya?
Maka sapalah mereka yang membenci Anda dengan sapaan cinta. Tataplah mereka yang membenci Anda dengan tatapan cinta. Taburkan doa-doa hidayah atas jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan kebencian. Lidah boleh bicara, tangan boleh bergerak, kaki boleh melangkah, otak boleh berpikir, namun yang menggenggam hati hanyalah Allah. Janganlah ada kebencian yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘jahannam’. Atau jangan ada kecintaan yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘surga’. Semua harus di bawah bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
oleh: Budiman Mustofa