Ust Ahmad Mudzoffar 3Oleh : Ust. Mudzoffar Jufri

Deputi Dakwah IKADI JATIM

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa (di bulan Ramadhan) sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu (menjadi lebih ) bertaqwa” (QS.Al-Baqarah: 183).

Rasanya baru “kemaren lusa” kita berpisah dengan bulan suci Ramadhan 1433. Tiba-tiba kita segera akan berjumpa dengan tamu agung itu lagi. Semoga Allah mengaruniakan taufiq-Nya kepada kita semua, sehingga bisa menggapai berbagai barakah di bulan mulia ini tahun ini, dan juga tahun-tahun mendatang.

Ramadhan adalah bulan istimewa bahkan paling istimewa dan paling utama, karena Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhususkannya dengan beragam keistimewaan dan bermacam-macam keutamaan serta kelebihan yang tidak terdapat di bulan-bulan yang lain. Dan karenanya, Ramadhan merupakan salah satu momentum paling istimewa dan paling utama, serta paling kondusif bagi kaum muslimin, secara individual maupun komunal, untuk melakukan upaya-upaya penempaan, perbaikan dan perubahan diri serta kehidupan dalam rangka mencapai tingkat keimanan, ketaqwaan dan kesalehan yang lebih tinggi, dan untuk menggapai derajat kepribadian mukmin-mukminah sejati yang diidam-idamkan. Dan untuk itu, maka berbagai faktor pendukungpun disediakan dan diberikan dalam bulan yang mulia dan penuh barokah tersebut, disamping faktor-faktor penghalang juga dijauhkan dan dihilangkan.

Maka beruntung dan berbahagialah orang beriman yang mampu dan mau mengoptimalkan pemanfaatan momentum istimewa ini, sehingga pasca Ramadhan iapun seperti terlahir kembali – dengan izin dan taufiq Allah – menjadi sosok pribadi mukmin baru yang serba istimewa pula. Dan sebaliknya, merugilah – di dunia dan di akherat – seseorang yang mengabaikan dan menyia-nyiakannya, sehingga Ramadhan demi Ramadhan lewat dan berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan perubahan apapun dalam diri pribadi dan kehidupannya.

Salah satu keistimewaan Ramadhan adalah bahwa, ia merupakan syahrul muhasabah, yakni bulan evaluasi, introspeksi dan bercermin diri. Ya, Ramadhan adalah salah satu sarana dan momentum teristimewa bagi setiap kita untuk bermuhasabah dan bercermin, yang dengannya masing-masing akan bisa mengetahui level keimanannya dalam hati, kualitas ketaqwaannya kepada Allah Ta’ala, dan kadar kerinduannya pada kehidupan ukhrawi yang bahagia. Sehingga melalui cermin Ramadhan, seseorang bisa menguji diri dan hatinya, untuk mengetahui sudah berada di tingkat, peringkat dan kelas apakah ia? Apakah tingkat keimanan, keislaman dan ketaqwaannya masih tetap berada di tingkat dasar: dzalimun linafsih (penganiaya diri sendiri)? Atau sudah naik ke tingkat menengah/lanjutan: muqtashid (pas-pasan, sedang-sedang saja, biasa-biasa saja, dan dalam batas minimal aman dan selamat)? Ataukah bahkan alhamdulillah telah sampai ke tingkat lebih tinggi atau tertinggi: sabiqun bil-khairat (pelomba, pelopor dan terdepan dalam berbagai kebaikan)? (lihat QS. Faathir [35]: 32).

Dan bercermin diri dengan Ramadhan, sudah bisa serta harus kita lakukan sejak sebelum bulan mulia itu benar-benar tiba. Ya, seperti saat-saat ini misalnya, dimana bulan Ramadhan tahun 1434 ini insyaallah akan segera tiba sekitar tiga pekan lagi. Tepatnya pada tanggal 10 atau 9 Juli 2013 mendatang, sesuai perbedaan yang diprediksi hampir pasti terjadi terkait permulaan puasa Ramadhan tahun ini. Dan bercermin diri pra Ramadhan bisa kita lakukan antara lain misalnya, dengan cara masing-masing kita “meraba” hatinya, seraya bertanya pada diri sendiri, bagaimanakah kondisi dan sikapnya dalam menyongsong dan menyambut bulan mulia Ramadhan yang segera tiba?

Ya, bagaimana sikap hati ini ketika kita tahu bahwa, bulan termulia sudah semakin dekat dan telah di ambang pintu? Apakah hati kita justru masih merasa berat dan dada kita terasa “sesak” karena akan bertemu dengan bulan beban yang serba memberatkan, merepotkan dan mengekang kebebasan? Dimana jika demikian, berarti kita masih berada di kelas keimanan terendah: “dzalimun linafsih” (penganiaya diri sendiri). Bagaimana tidak dzalim dan aniaya terhadap diri sendiri, seorang muslim atau muslimah yang masih menganggap dan menyikapi bulan penuh limpahan rahmat, curahan barakah, dan luapan maghfirah, berbalik menjadi bulan beban yang dianggap malah memberatkan, merepotkan dan menyusahkan?

Ataukah kita sudah tidak merasa berat dengan kehadiran Ramadhan, dan insyaallah akan menyambutnya dengan menunaikan kewajiban puasa dengan baik, akan tetapi sikap hati kita masih biasa-biasa saja, datar-datar saja, sedang-sedang saja dan santai-santai saja? Dengan arti seolah-olah tidak ada yang khusus, spesial dan istimewa yang harus dipersiapkan dan dilakukan dalam upaya penyongsongan dan penyambutan sang tamu super agung ini, baik dalam aspek rasa hati, maupun penyikapan dan persiapan. Dan bila kita berada dalam kondisi hati dan sikap diri seperti ini terhadap bulan Ramadhan, maka berarti kita menempati kelas menengah/lanjutan dalam kualitas keimanan dan ketaqwaan, yakni kelas “muqtashid” (pertengahan/sedang-sedang saja). Memang sudah lebih baik daripada kelas “dzalimun linafsih”, namun tentu saja itu masih kurang. Karena bagaimana tidak kurang bila Ramadhan yang begitu luar biasa keistimewaannya, tetap disikapi sama sebagaimana bulan-bulan lainnya pada umumnya?

Nah, semoga kita semua tidak ada yang masih berada di kelas terendah “dzalimun linafsih”, juga tidak cukup puas di kelas menengah “muqtashid” saja. Melainkan telah berada dan atau terus selalu tak henti berupaya agar bisa naik ke peringkat, tingkat, level, dan kelas keimanan serta ketaqwaan yang lebih tinggi atau tertinggi, yakni kelas “sabiqun bil-khairat” (pelomba segala kebaikan). Dimana dalam konteks menyongsong dan menyambut kehadiran bulan suci Ramadhan yang segera tiba, kita berada dalam suasana hati dan nuansa batin yang sangat indah serasa berbunga-bunga, karena demikian rindunya ingin segera bersua dengan kekasih hati dan sang tamu agung nan mulia, yang senantiasa ditunggu-tunggu kehadirannya. Tentu sekaligus dibarengi dengan berbagai penyikapan dan persiapan yang mendukung kejujuran sikap hati tersebut! Baik berupa persiapan mental, pikiran, ilmu, fisik, finansial, antisipasi, perencanaan, dan lain sebagainya. Dan tentu saja doa kita juga, semoga kita dipertemukan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya lagi, tidak asal bertemu saja, melainkan dengan cara pertemuan yang sebaik-baiknya! Semoga!!! Aamiin!!!

 

Melalui sarana bulan suci Ramadhan, kita juga bisa berevaluasi, berintrospeksi, dan bercermin diri, untuk melihat hakekat jiwa dan hati kita apa adanya, tanpa campur tangan syetan penggoda dan pengganggu utama, yang – berdasarkan hadits muttafaq ‘alaih – dirantai dan dibelenggu alias dinon aktifkan perannya selama Ramadhan saja.

Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “Apabila bulan Ramadhan tiba, maka pintu-pintu Surga dibuka selebar-lebarnya, pintu-pintu Neraka ditutup serapat-rapatnya dan syetan-syetan dibelenggu sekuat-kuatnya” (HR Muttafaq ‘Alaih). Nah, dengan demikian, salah satu keistimewaan khusus bulan mulia Ramadhan, yang tidak terdapat pada bulan lainnya, adalah dibelenggu dan dirantainya syetan-syetan selama bulan puasa tersebut. Sehingga tidak bisa dengan bebas dan leluasa lagi menjalankan peran utamanya – seperti biasanya – sebagai pengganggu, penggoda, pengajak, pensupport dan pembisik kejahatan bagi manusia. Dan, sekali lagi, ini hanya berlaku khusus selama bulan suci Ramadhan saja. Sungguh sebuah keistimewaan yang luar biasa, yang harus dioptimalkan pemanfaatannya oleh setiap insan beriman dan bertaqwa.

Tentu banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil serta petik dari hadits diatas. Antara lain adalah bahwa, jika kita renungkan dengan cermat dan seksama is kandungan hadits tersebut, lalu kita padukan dengan fakta dan realita yang terjadi didalam kehidupan manusia, maka kita akan tersadarkan tentang kekeliruan persepsi kita selama ini tentang kapasitas peran dan fungsi syetan dalam menyesatkan manusia.
Banyak diantara kita selama ini memahami secara salah bahwa, peran dan posisi syetan dalam penyesatan sangatlah dominan. Segala bentuk kejahatan, kesesatan, kemaksiatan dan keburukan yang ada dalam perilaku manusia, selalu dialamatkan kepada syetan sebagai biangnya. Syetan selalu dijadikan sebagai kambing hitam. Kita tidak mungkin memungkiri adanya peran syetan disana. Kita semua sepakat bahwa, syetan adalah makhluk yang jahat dan busuk, serta bahwa ia adalah salah satu faktor penyebab setiap kejahatan. Karena memang Allah Ta’ala – berdasarkan hikmah-Nya – telah menciptakan syetan dan menetapkannya khusus untuk kekufuran, kebusukan dan kejahatan. Tapi yang harus kita luruskan adalah persepsi salah bahwa, syetan adalah satu-satunya sumber kejahatan, dan bahwa ia adalah segala-galanya dalam setiap kekufuran, kesesatan, kejahatan dan kemaksiatan yang terjadi dalam kehidupan manusia.

Seandainya pemahaman itu benar, maka semestinya selama Ramadhan tidak ada lagi kekufuran, kejahatan dan kemaksiatan. Karena – seperti penegasan hadits shahih diatas – syetan sedang dirantai dan dibelenggu, atau dengan kata lain sedang dinon aktifkan perannya dalam bulan Ramadhan seperti yang akan datang sebentar lagi. Tapi faktanya, ternyata sebalik dari itu. Kekufuran tetap ada. Kesyirikan tetap merajalela. Kejahatan tetap terjadi dimana-mana. Dan kemaksiatan tidak pula kunjung sirna! Itu berarti syetan bukanlah satu-satunya biang kejahatan. Dan bahkan ia bukanlah merupakan pemeran atau pemain utama! Berarti ada pemeran atau pemain lain. Ya, pemeran atau pemain lain itulah yang justru sebenarnya merupakan pemeran utama atau pemain inti dalam setiap kesesatan manusia. Dan pemeran utama atau pemain inti itu tidak lain adalah diri dan jiwa manusia itu sendiri. Sementara itu, syetan – baik syetan asli maupun yang ‘niru-niru syetan’ dalam kejahatannya, dari golongan manusia dan jin – sebenarnya hanyalah merupakan pemeran pembantu atau pendukung saja. Bahkan ibarat permainan bola, ia hanyalah sebatas ‘supporter’, atau bahkan sekadar penyebar undangan saja, dan bukan pemain apalagi pemain inti. Inilah hakikat yang ditegaskan oleh Al-Qur’an (lihat misalnya QS Ibrahim : 22) dan Al-Hadits, yang didukung oleh fakta dan realita. Namun tidak banyak orang yang memahaminya secara benar.

“Dan berkatalah syetan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sama sekali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian. Melainkan aku (hanya mampu sekadar) menyeru kalian, lalu kalian mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca (menyalahkan) aku, akan tetapi cercalah (salahkanlah) diri kalian sendiri (mengapa kalian mau mengikutiku dan memenuhi ajakannku!). Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalianpun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu mendapat siksaan yang pedih” (QS. Ibrahim [14]: 22).

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakan dan memberikan didalam setiap jiwa manusia dua potensi sekaligus secara seimbang dan adil. Yakni potensi baik , yang dibahasakan di dalam Al-Qur’an dengan potensi taqwa (taqwaha), dan potensi buruk/jahat, yang disebut dengan potensi fujur (fujuraha). Tinggal setiap manusia sendirilah setelah itu yang menentukan dan memilih untuk memenangkan potensi baik atau potensi buruk. Maka pilihan manapun yang ia pilih – iman atau kufur, taat atau maksiat, baik atau jahat dan seterusnya – adalah pilihan dia sendiri, yang atas dasar itulah Allah akan meminta pertanggungjawabannya di Akhirat kelak (lihat QS Asy-Syams : 7 – 10). Oleh karena itu, jika seseorang memilih jalan kekufuran, kamaksiatan dan kejahatan, maka dirinya sendirilah yang menjadi pemeran utama dan pemain inti dalam hal itu. Adapun syetan, seperti yang telah disebutkan diatas, hanyalah sebatas sebagai pemeran pembantu, pendukung, pengajak, penyebar undangan, dan ‘supporter’ belaka !

Hakikat inilah antara lain yang diingatkan dan disadarkan oleh hadits diatas, dan tentu juga oleh setiap momentum kehadiran bulan suci Ramadham. Oleh karenanya, selama bulan puasa seperti yang segera tiba, dimana syetan-syetan dinonaktifkan perannya, setiap kita dihadapkan dengan diri sendiri untuk melihat kondisi jiwa dan keadaan hatinya apa adanya, tanpa campur tangan syetan durjana. Sehingga ketika masih tetap ada kecenderungan buruk atau prilaku maksiat dan jahat dalam diri kita selama Ramadhan, maka jangan lagi berdalih dengan melibatkan, menuduh membawa-bawa nama syetan. Tidak ada lagi peran syetan disana. Melainkan itu semua murni dari pengaruh an-nasful ammarah bissu’ (nafsu pendorong kejahatan) (QS. Yusuf [12]: 53), atau minimal dari faktor an-nafsul musawwilah (nafsu penipu daya) (QS. Yusuf [12]: 83) dalam diri kita. Jadi, kesimpulannya, berarti kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa, itulah hakikat jiwa dan kondisi hati kita apa adanya, yang harus dilakukan mujahadah (upaya keras dan sungguh-sungguh) dalam men-tazkiyah-nya (mensucikannya). Wallahul Musta’an!

pks.news