Prahara PKS dalam Bait-bait Lagu | By: Nandang Burhanudin

By: Nandang Burhanudin



Setelah NU-MUhammadiyah disibukkan dengan perbedaan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal setiap tahun, maka kekuatan-kekuatan Islam di luar kedua ormas besar 
tersebut dikebiri satu per-satu. Tuduhan demi tuduhan bertubi-tubi, seakan tak kenal henti. FPI dikebiri sedemikian rupa oleh barisan JIL-Sekuler-Liberal agar dibubarkan. Setelah sebelumnya MMI, JAT, dibonsai hingga persiapan penerapan Syariat di beberapa kota yang marak tahun 2000, namun 13 tahun kemudian meregang nyawa; lenyap tak berbekas. 

Kini PKS dapat giliran, ibarat lagu; kalangan Islamphobia bahu membahu mengerahkan berbagai amunisi, mulai dari ekstrim kiri hingga ekstrim kanan. Ujung-ujungnya sama: 


Berharap PKS terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.
Tenggelam dalam lautan luka dalam
PKS tersesat dan tak tahu arah jalan berjuang
PKS jika bisa ditinggalkan kadernya 
Karena PKS tanpa kader tak ubahnya butiran debu

Itu dari ekstrim kiri. Mau tidak mau, suka tidak suka, rekayasa dari rekayasa kasus LHI hingga kasus 45 wanitanya lebih heboh dari kasus korupsinya, siapapun yang masih mau sedikit terbuka tidak akan bisa memejamkan mata bahwa rasa konspirasinya terlalu pekat. 

Belum lagi dari ekstrim kanan. Walau istilah ini saya kurang setuju menggunakannya. Dimana aib yang melanda PKS seakan hujan berkah bagi beberapa kalangan, yang entah mengapa sedemikian bahagianya mereka, hingga lupa dengan slogan Syariat yang menjadi rahmat dan khilafah yang menyatukan umat. Bukannya bahu membahu, namun malah ibarat lagu: 

PKS berlari sang pembenci terdiam. PKS menangis sang pembenci tersenyum. PKS berduka sang pembenci bahagia. PKS pergi sang pembenci kembali. PKS coba meraih mimpi, sang pembenci coba ‘tuk hentikan mimpi. Seakan keduanya takkan menyatu. 

Saat berharap PKS menjadi butiran debu, justru kader-kader PKS terhenyak dan bangkit. Kader-kader yang tadinya terasuki virus 5 L, berubah tampil hangat dengan 5 S. Karena bagi kader-kader PKS, berpartai itu bagian dari dakwah. Cinta utamnya adalah dakwah. Besarnya cinta itulah ibarat lagu: 

Demi cintaku pada dakwah
Kemanapun kaukan ku bawa
Walau harus kutelan lautan bara
Demi cintaku pada dakwah
Ke gurun ku ikut denganmu
Biarpun harus berkorban jiwa dan raga

Kader-kader PKS siap melakukan lebih dari itu. Ibarat kata, jika dakwah itu adalah istri, maka kader-kader PKS siap berbulan madu di awan biru.
Tiada yang mengganggu. Bulan madu di atas pelangi
Hanya berdua. Nyanyikan lagu cinta. Walau seribu duka. Kita takkan terpisah. 

Lekatnya cinta kader-kader PKS terhadap Indonesia, karena spirit juang para kader yang tak pernah berhenti untuk bekerja, mencipta harmnoni. Hal ini sudah menjadi komitmen bahwa kader-kader PKS siap menjadi HARAPAN INDONESIA. Oleh karena itu, kader-kader PKS sama sekali tidak membenci KPK. Malah sejak awal mendukung pemberantasan korupsi. Yang dibenci adalah ketidakadilan dan pengadilan jahat. Namun bagi kader-kader PKS, kejahatan tidak akan dibalas kejahatan. Persis seperti lagu: 

Tatap tegaklah masa depan
Tersenyumlah tuk kehidupan
Dengan cinta dan sejuta asa
Bersama membangun Indonesia

Jadi, apapun yang terjadi terhadap pimpinan PKS, yaitu Ust. LHI, kader-kader PKS menganggapnya hanya sandiwara para mafia untuk menutupi kebusukan mereka. JB bagi kader PKS seperti lagu: 

Aku tahu ini semua tak adil
Aku tahu ini sudah terjadi
Mau bilang apa aku pun tak sanggup
Air mata pun tak lagi mau menetes
Alasannya seringkali ku dengar
Alasannya seringkali kau ucap
Kau dengannya seakan ku tak tahu
Sandiwara apa yang telah kau lakukan kepadaku

Singkat kata, para konspirator paham, jika kader-kader PKS yang dibully, dijamin tidak akan ada chaos, demo besar-besaran, ataupun bom meletup dimana-mana. Karena para konspirator paham, kader-kader PKS seperti nasyid Shotul Harakah: 

Pegang teguhlah kebenaran
Buang jauh nafsu angkara
Berkorban dengan jiwa dan raga
Untuk tegaknya keadilan

Kader-kader PKS sadar, umat Islam diposisikan sebagai domba-domba yang siap diadukan satu sama lain. Hanya umat seringkali tak sadar. Persis seperti lagu Bung Haji Rhoma Irama dalam lirik lagu berikut: 

Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan

Demi keuntungan domba jadi korban
(Diadu domba)
Demi kesenangan domba kesakitan
(Diadu domba)

Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan
Adu domba adu domba mengadu domba
Domba dipertaruhkan

Sayang-sayang seribu kali
Domba-domba tak menyadari
Kasihan aduhai kasihan
Domba-domba pun bermusuhan
Hentikanlah hentikan itu kedhaliman
Janganlah dan janganlah kau mengadu domba

Sudah ah, nanti ada yang bilang, ustadz kok gak pake dalil Al-Qur’an dan Sunnah! 

Sumber: Nandang Burhanudin,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>