Tukang Kayu dan Ramadhan

Alkisah, ada seorang tukang kayu yang hidup sederhana namun sangat dipercayai sekali oleh juragannya karena hasil pekerjaannya yang selalu sangat memuaskan. Karena kehebatannya itulah, dia sering ditugaskan oleh juragannya untuk menangani berbagai proyek pembangunan perumahan. Namun pada suatu ketika, tak ada kabar tak ada angin, tukang kayu tersebut mengajukan pengunduran diri kepada juragannya. Bukan karena sudah tak sanggup lagi, tpi memang mengajukan pengunduran diri semata-mata karena ingin pensiun saja. Tentu saja hal itu membuat sang juragan terkejut, kaget seolah tak percaya, kalau tukang kayu andalannya itu akan meninggalkan pekerjaannya. Dibujuknya, dirayunya, diiming2inya dengan menaikkan bayaran yg berlipat-lipat, tetap saja tak membuat goyah keputusan sang tukang kayu untuk berhenti dari pekerjaannya. Sampai akhirnya sang juraganpun menyerah, dan akhirnya mengabulkan keinginnya, namun tetap dengan satu syarat.

“Baiklah, anda boleh berhenti dari pekerjaan ini, namun saya minta satu syarat kepada anda, agar anda memenuhinya” Pinta sang juragan.

“Syarat apakah yang hendak Tuan ajukan”

“Tak susah-susah, buatkanlah saya sebuah rumah hasil rancangan anda. Anggapa saja sebagai kenang-kenangan terakhir dari Anda untuk saya”

Dalam hati, sebenarnya Tukang kayu merasa keberatan dengan syaratnya tersebut, Pikirnya, kenapa harus dibuat susah sih orang mau berhenti kerja. Tinggal bilang “iya, silahkan” kok sepertinya susah sekali. Begitu pikiran si Tukang Kayu. Tapi karena sang juragan memaksa dan syarat itu harus dituruti kalau memang mau berhenti bekerja, akhirnya syarat tersebut pun dituruti.

“Baiklah Tuan, akan saya buatkan Tuan sebuah rumah sebagai kenang-kenangan dari saya”

Si Tukang kayu masih merasa tidak ikhlas saja menerima syarat itu, dan karena tahu Juragan begitu percaya pada dirinya, akhirnya Tukang kayu pun mengerjakan sebuah rumah dengan asal-asalan. Asal jadi, asal cepet bisa berhenti bekerja. Maka dibuatlah dengan segera rumah yang diinginkan oleh sang Juragan, namun dengan dikerjakan serba asal-asalan, yang penting jadi kelihatan bentuk rumah. Pikirnya, juragan pasti percaya apa yang tukang kayu buat, itulah yang terbaik.

Sampai akhirnya, jadilah rumah yang menjadi syarat berhentinya bekerja tersebut. Diundanglah tamu-tamu undangan kehormatan untuk menghadiri acara pelepasan tukang kayu kepercayaan tersebut. Sampai pada upacara puncak, sebelum benar-benar melepas kepergiannya, sang Juragan ternyata dengan sangat baik hati memberikan cinderimata kepada si Tukang Kayu, wujud terimakasih atas apa yang telah dia berikan selama bekerja untuknya. Dan ternyata, rumah yang tadi dijadikan syarat itulah yang dijadikan bentuk terimakasih dari sang Juragan untuk tukang kayunya.

Betapa terkejutnya si Tukang Kayu, ternyata rumah yang dikiranya dibuat untuk juragannya sebagai syarat agar bisa berhenti bekerja, ternyata dihadiahkan untuknya. Rumah yang dibuat asal-asalan tersebut ternyata diberikan untuknya. Betapa dia sangat menyesal setelahnya. Seandainya saja tahu kalau ternyata rumah itu adalah untuk dirinya, pasti tidak akan dibuat secara asal-asalan, pasti akan dikerjakan dengan sebaik mungkin. Aahh, semuanya sudah terjadi, dan si tukang kayu hanya bisa meratapi kebodohannya itu.
Waaahhh, ternyata panjang sekali ceritanya. Hehehe

Itulah sepenggal cerita yang saya dapat dari kajian Tarhib Ramadhan oleh Ust. Drs. Ihsan Abd. Rosyid dan Ust. Rahmat Santoso, setahun yang lalu.

Kisah di atas bisa menggambarkan kepada kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Apalagi sebentar lagi Ramadhan menghampiri kita. Jangan sampai ibadah kita di bulan Ramadhan itu, sama halnya seperti tukang kayu itu. Yang asal-asalan dalam membuat sebuah rumah, dan ternyata apa yang dia dapat? Rumah yang dibuat dengan asal-asalan itu ternyata adalah kembali kepada dirinya, bukan untuk sang Juragan yang memintanya dari awal.

Kaitannya dengan kualitas ibadah kita, pada hakekatnya kita beribadah itu adalah untuk diri kita sendiri. Semuanya akan kembali untuk kita. Ibadah kita, sholat kita, shodaqoh kita, puasa kita memang Allah yang memerintahkan sebagai wujud penghambaan kita kepada Allah SWT. Tapi pada hakekatnya semua yang kita kerjakan itu adalah akan kembali kepada kita.

Allah memang memerintahkan kita untuk beribadah kepadaNya. Namun ketika kita mengabaikannya, Allah tidak merasa rugi. Allah memerintahkan kita sholat, lalu kita tidak melaksanakan shalat, siapa yang rugi? Kita sendiri tentunya. Allah tidak akan rugi sama sekali. Ketika kita tidak mau zakat, infaq ataupun shodaqoh, Allah tidak akan jatuh miskin sodara-sodara. Allah tetap Maha Kaya. Yang rugi justru adalah kita. Sebab dengan zakat, infaq, shodaqoh itu adalah bentuk rasa syukur atas nikmat-Nya, dan tentu saja ketika mengamalkan bentuk rasa syukur kita, maka apa yang kita keluarkan itu, akan kembali berbuah kebaikan lagi kepada kita. Kembali lagi kepada kita, bahkan yang kembali tidak jarang bisa lebih baik dari apa yang kita keluarkan. Ketika kita melakukan ha-hal yang baik, tentu saja kebaikan pula yang akan kita terima.

Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Ramadhan adalah satu-satunya bulan yg disebut langsung dalam Alqur’an. Jangan sampai kita menyia-nyiakan Ramadhan. Apalagi sampai menyia-nyiakannya, asal-asalan dalam beribadah di bulan Ramadhan pun, hendaknya kita hindari. Kita harus maksimal mungkin di bulan Ramadhan ini.

Mumpung masih ada beberapa hari lagi sebelum Ramadhan benar-benar datang, mari kita siapkan dengan sebaik-baiknya, agar ibadah kita di bulan Ramadhan bisa maksimal sehingga apa yang didapat setelahnya pun akan kembali kepada kita, membentuk jiwa2 yang benar-benar bertaqwa. Banyak kemuliaan-kemuliaan yang sangat disayangkan untuk kita lewatkan di bulan Ramadhan ini. Mudah-mudahan kita tidak seperti tukang kayu tadi, yang ahirnya menyesal karena telah melakukan pekerjaan dengan asal-asalan. Ramadhan bulan yang agung, bulan yang ditunggu-tunggu, semoga kita bisa memaksimalkannya dengan sebaik-baiknya.

Tuhan mengapa aku ini

berlainan dari orang lain

setiap kedatangan Ramadhan

mereka menyambut dengan gembira

mereka kelihatan ceria

Tapi aku berlainan

kedatangan Ramadhan penuh duka

bukan aku benci bulan-Mu

yang penuh rahmah dan berkah

Tapi aku benci diriku

aku bimbang Ramadhan-Mu

aku tidak mengisi sebaiknya

aku rasa puasaku tidak sempurna

ampunilah aku Tuhan

Aku rasa sembahyangku tidak syah

Tarawih, bacaan qur’an aku, tidak sampai kemana

Allah, itulah menyelubungi hatiku

setiap kali kedatangan Ramadhan

adakah satu kesalahan, ampunkan aku Tuhan

maafkanlah aku Tuhan kalau itu satu kesalahan

bimbinglah aku betulkan sikapku

aku mohon keampunan dari-Mu, Allah

*Mawaddah

Gambar minjem dari sini

Mabruri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>